Medan, Mitramabesnews.id - Pilu keluarga Agustina Naibaho (22), mahasiswi Universitas Negeri Medan (UNIMED) yang ditemukan tewas di kamar indekosnya berkumpul di RS Bhayangkara TK II Medan, Jumat (13/3/2025). Jenazah Maria akan dimakamkan di kampung halaman ayahnya, di Desa Sirube-rube Gunung Purba, Kecamatan Dolok Pardamean, Kabupaten Simalungun.
Mangatur Naibaho, anggota DPRD Tebingtinggi tampak murung dan duduk di kursi besi, di depan kamar jenazah RS Bhayangkara TK II Medan, Jumat (13/3/2026).
Kesedihan dan kepedihan terpancar dari wajahnya yang tampak letih dan kelelahan, Ia baru sampai ke Kota Medan setelah menempuh perjalanan darat berjam-jam dari Pekanbaru.
Mengenakan kemeja panjang warna merah, kacamata hitam, ia bersandar, menatap ke arah peti jenazah putrinya, Maria Agustina Naibaho, 22 tahun.
Meski tatapannya kosong, matanya tak lepas memandang peti berwarna putih, list motif warna emas berisi jenazah anaknya.
MAHASISWI TEWAS - Mangatur Naibaho, anggota DPRD Tebingtinggi ketika diwawancarai soal kematian anaknya, Maria Agustina Naibaho, di RS Bhayangkara TK II Medan, Jalan KH Wahid Hasyim, Jumat (13/3/2026). Ia tampak sedih meratap ke arah peti jenazah putrinya yang menduga ada motif kriminal setelah mengetahui HP anaknya terbelah dua dan pecah.
Setelah mengetahui perihal HP keluarga almarhum telah membuat laporan polisi di polda sumut yang diwakilkan oleh abangnya Hary Deardo Naibaho (kemeja hijau lengan pendek) dan di dampingi keluarganya saat membuat laporan. Dan di dampingi oleh Robet Andres Marihot Silitonga.S.H (kemeja biru) yang merupakan keluarga korban (sepupu) saat dipriksa untuk diminta keterangan sementara dari saksi (sanggam marbun) dan pelapor.
Mangatur, masih tak percaya anak ketiganya begitu cepat meninggal dunia. Di belakang peti mati terdapat patok salib berwarna putih bertuliskan Maria Agustina Naibaho, yang lahir 1 Agustus 2003,dan wafat 12 Maret 2026.
Sedangkan di depan peti, mobil ambulans sudah bersiap-siap.
Tak lama kemudian, anggota keluarga mendatangi Mangatur, mengatakan jenazah sudah siap untuk diberangkatkan.
Bangkit perlahan-lahan, dibantu keluarga, ia berdiri, melangkah pelan ke arah peti.
Langkahnya berat tubuhnya seolah kaku, matanya berbinar menahan tangis.
Beberapa keluarga mencoba menguatkannya, memeluknya agar kuat.
Begitu dekat ke peti jenazah, ia membuka pintu kayu kecil untuk melihat wajah anaknya.
Usai dibuka, dadanya seakan semakin sesak melihat wajah putri terakhirnya.
Kemudian ia dan beberapa anggota keluarga berdiri di depan peti, dan berdoa bersama untuk putri tersayang Mangatur. (Alihakim H)


Social Header