Breaking News

Kenaikan Harga Minyak Dunia Kembali Menjadi Sorotan Serius

Ket : Foto Ilustrasi

Jakarta,Mitramabesnews.id - Kenaikan harga minyak dunia kembali menjadi sorotan serius setelah raksasa manajemen aset BlackRock memperingatkan potensi dampak sistemik jika harga menembus US$150 per barel Rabu, (25/03/2026) 

Pernyataan CEO Larry Fink bukan sekadar spekulasi pasar, melainkan sinyal kuat bahwa ekonomi global tengah berada di persimpangan yang rapuh. Di tengah ketidakpastian akibat konflik di kawasan Timur Tengah, harga energi kini bukan lagi sekadar variabel ekonomi, melainkan faktor penentu stabilitas sosial dan politik. Lonjakan harga minyak, dalam perspektif Fink, bekerja layaknya “pajak regresif”—menekan kelompok berpenghasilan rendah jauh lebih keras dibandingkan kalangan atas. Artinya, krisis energi berpotensi memperlebar jurang ketimpangan global.

Dua Skenario, Dua Arah Dunia
Fink menggambarkan dua kemungkinan ekstrem. Dalam skenario optimistis, meredanya konflik dan kembalinya negara seperti Iran ke pasar global dapat menstabilkan harga minyak. Namun dalam skenario sebaliknya, eskalasi berkepanjangan justru akan mendorong harga menuju US$150—level psikologis yang dapat memicu resesi tajam.

Dalam konteks ini, harga energi tinggi akan menghantam berbagai sektor secara simultan: biaya produksi meningkat, daya beli melemah, dan tekanan inflasi makin sulit dikendalikan. Kombinasi ini berisiko menciptakan efek domino yang menyeret banyak negara ke dalam kontraksi ekonomi.

Eropa Mulai Gelisah, Ketergantungan Jadi Sorotan Di Inggris, kekhawatiran mulai mengarah pada isu klasik: ketergantungan energi impor. Seruan untuk meningkatkan produksi domestik minyak dan gas mencerminkan kegelisahan negara-negara maju terhadap volatilitas global. Ketika pasokan energi menjadi alat tawar geopolitik, kemandirian energi berubah dari pilihan menjadi kebutuhan strategis.

Energi Murah: Fondasi Pertumbuhan yang Terancam Fink menekankan bahwa akses terhadap energi murah adalah kunci pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kualitas hidup.

Tanpa itu, dunia akan menghadapi perlambatan struktural, bukan sekadar siklus ekonomi biasa.

Namun menariknya, krisis juga membuka peluang. Jika harga minyak tinggi bertahan dalam jangka menengah (3–4 tahun), transisi menuju energi terbarukan seperti surya dan angin bisa mengalami percepatan signifikan.

Negara-negara akan dipaksa untuk tidak lagi bergantung pada satu sumber energi.
Momentum Transisi atau Awal Krisis Baru?

Peringatan ini menempatkan dunia dalam dilema: bertahan dengan sistem energi lama yang rentan terhadap gejolak, atau berinvestasi besar-besaran dalam transisi energi yang belum sepenuhnya matang.

Dalam situasi ini, pragmatisme menjadi kata kunci. Seperti disampaikan Fink, negara perlu memanfaatkan semua sumber energi yang tersedia, sembari bergerak agresif menuju alternatif yang lebih berkelanjutan.

Pertanyaannya kini bukan lagi apakah krisis akan terjadi, melainkan seberapa siap dunia menghadapinya. Jika harga minyak benar-benar menembus US$150, dampaknya bukan hanya pada grafik ekonomi—tetapi pada stabilitas global secara keseluruhan. (Tim) 
© Copyright 2022 - Mitra Mabes News