Jakarta, Mitramabesnews.id - Dan seperti semua drama besar, jumlah pemainnya terus bertambah. Yang sulit justru mengetahui siapa penulis naskahnya, siapa sutradaranya, dan siapa sebenarnya yang sedang memainkan siapa.
Di atas panggung, para pendekar hukum saling mempertontonkan jurus.
Ada yang menghunus pasal.
Ada yang mengayunkan surat perintah penyidikan.
Ada yang memainkan barang bukti.
Ada yang membangun opini.
Sesekali terdengar tepuk tangan ketika seorang koruptor dijatuhi hukuman puluhan tahun dan negara disebut berhasil menyelamatkan kerugian triliunan rupiah.
Penonton pun percaya bahwa kebaikan akhirnya menang.
Lalu tirai berikutnya terbuka.
Panggung berubah.
Sang pemburu koruptor dikabarkan justru menjadi objek penyelidikan. Beredar informasi mengenai temuan uang tunai dan emas batangan dalam jumlah yang membuat publik terdiam. Berbagai pernyataan, bantahan, dan penjelasan muncul silih berganti. Sebagian masih berada dalam proses hukum, sebagian menjadi konsumsi ruang publik.
Di titik itulah penonton mulai bertanya,
Apakah ini babak baru dari cerita yang sama, atau cerita lain yang sedang meminjam panggung yang sama?
***
Drama menjadi semakin rumit.
Satu institusi bergerak.
Institusi lain menjawab.
Ada konferensi pers.
Ada bantahan.
Ada klarifikasi.
Ada dugaan intervensi.
Ada penyangkalan atas dugaan intervensi.
Ada pengawasan politik.
Ada pula perdebatan mengenai batas kewenangan masing-masing lembaga.
Begitu banyak mikrofon.
Begitu sedikit jawaban.
Seolah-olah setiap aktor sedang berbicara kepada kamera yang berbeda.
***
Dalam film yang baik, penonton mengetahui siapa protagonis dan siapa antagonis.
Dalam pertunjukan kali ini, justru itulah misterinya.
Hari ini seseorang tampil sebagai pahlawan.
Besok ia menjadi tokoh yang dipertanyakan.
Lusa mungkin kembali menjadi penyelamat.
Di negeri ini, kostum tampaknya lebih cepat berganti daripada kesimpulan hukum.
Yang hitam belum tentu hitam.
Yang putih belum tentu putih.
Yang abu-abu justru semakin luas wilayahnya.
***
Namun panggung belum selesai.
Masih ada babak yang paling menentukan.
Babak yang seharusnya menjadi akhir dari seluruh cerita.
Babak yang bernama pengadilan.
Di sanalah rakyat berharap naskah akhirnya dibacakan oleh seorang hakim yang berdiri hanya di bawah konstitusi, hati nurani, dan hukum.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, harapan itu ikut diguncang oleh berbagai perkara yang melibatkan aparat peradilan sendiri. Publik menyaksikan hakim ditangkap karena dugaan suap, muncul perkara dugaan makelar kasus, hingga ditemukannya uang tunai dan aset bernilai sangat besar dalam perkara yang menyeret mantan pejabat Mahkamah Agung. Semua itu telah menjadi berita nasional dan meninggalkan luka yang dalam pada persepsi masyarakat.
Maka rakyat pun mulai bertanya dengan getir,
Jika wasit ikut bermain, kepada siapa pertandingan harus diserahkan?
Konon, Dewi Keadilan menutup matanya agar tidak membedakan siapa yang diadili.
Namun dalam imajinasi rakyat hari ini, penutup mata itu bukan lagi sekadar lambang imparsialitas.
Mereka khawatir, jangan-jangan penutup itu dipakai agar sang Dewi tidak melihat apa yang sedang terjadi di sekelilingnya.
Hakim seharusnya menjadi titik akhir dari segala perdebatan.
Bukan bagian dari perdebatan itu sendiri.
Karena ketika hakim dipersepsikan dapat dipengaruhi oleh uang atau kekuasaan, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar satu putusan.
Yang dipertaruhkan adalah kepercayaan.
Dan harga kepercayaan selalu jauh lebih mahal daripada seluruh uang yang pernah disita sebagai barang bukti.
Negara masih dapat menghitung kerugian korupsi dalam rupiah.
Tetapi tidak ada rumus ekonomi yang mampu menghitung kerugian ketika rakyat berhenti mempercayai pengadilannya.
Gedung pengadilan boleh tetap megah.
Lambang Garuda tetap tergantung.
Palu hakim tetap diketukkan.
Namun bila kepercayaan publik runtuh, yang roboh bukan gedungnya.
Yang roboh adalah legitimasi keadilan.
***
Barangkali dunia persilatan Tiongkok yang penuh jurus bayangan pun akan kesulitan mengikuti alur cerita ini.
Di sana, para pendekar bertarung memperebutkan kitab suci.
Di sini, para pendekar seolah bertarung memperebutkan tafsir atas hukum itu sendiri.
Setiap jurus memiliki dasar hukum.
Setiap serangan memiliki argumentasi.
Setiap bantahan memiliki konferensi pers.
Dan setiap babak melahirkan teori baru.
***
Yang paling sunyi justru penonton.
Mereka membayar pajak untuk membiayai panggung ini.
Mereka membiayai gedungnya.
Mereka membiayai lampunya.
Mereka membiayai para pemainnya.
Mereka bahkan membiayai senjata, kendaraan, seragam, ruang sidang, dan seluruh institusi yang berdiri di atas nama negara.
Namun ketika pertunjukan selesai, mereka pulang hanya membawa pertanyaan.
Tidak ada yang menjelaskan apakah yang mereka saksikan adalah keberhasilan pemberantasan korupsi, konflik antarlembaga, atau perebutan panggung kekuasaan.
***
Di sinilah sesungguhnya persoalan yang paling serius.
Bukan semata-mata siapa yang benar atau siapa yang salah.
Melainkan ketika kepercayaan publik mulai kehilangan tempat berpijak.
Dalam negara hukum, keadilan bukan hanya harus ditegakkan.
Ia juga harus tampak ditegakkan secara adil.
Ketika proses hukum dipersepsikan saling bertabrakan…
Ketika berbagai institusi negara tampak saling menguji kewenangannya di hadapan publik…
Ketika ruang politik, ruang hukum, dan ruang kekuasaan seolah menyatu dalam satu panggung…
Maka yang dipertaruhkan bukan lagi nasib seorang pejabat.
Bukan pula nasib satu perkara.
Yang dipertaruhkan adalah legitimasi negara hukum itu sendiri.
Karena sesungguhnya hukum tidak hidup dari pasal-pasal.
Hukum hidup dari kepercayaan.
Dan kepercayaan adalah mata uang yang paling sulit dipulihkan setelah hilang.
***
Mungkin semua ini hanyalah satu babak.
Mungkin pada akhirnya seluruh peristiwa akan memperoleh penjelasan yang utuh melalui proses hukum yang independen, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Sebab dalam negara demokrasi, pengadilanlah yang seharusnya menjadi panggung terakhir.
Bukan ruang opini.
Bukan arena pertarungan kekuasaan.
Namun selama jawaban itu belum tiba, rakyat tetap duduk di kursi penonton.
Mereka menunggu.
Mereka memperhatikan.
Mereka mencoba memahami.
Sambil bertanya dalam hati,
Apakah ini benar-benar drama pemberantasan korupsi…
…atau drama tentang siapa yang menguasai panggung pemberantasan korupsi?
Dan seperti lazimnya film-film Hollywood…
ketika lampu bioskop menyala, penonton baru menyadari satu hal.
Yang baru selesai hanyalah Episode Pertama.
(Red)


Social Header