Gunung Sitoli, Mitramabesnews.id - Sebuah kejadian yang memalukan dan sangat merugikan masyarakat terjadi baru saja di Desa Luaha Laraga, Kota Gunungsitoli. Di Pangkalan LPG 3 KG bernama UD NIFO, warga yang datang membeli justru diperlakukan tidak jujur dan diberi harga jauh di atas ketetapan pemerintah, padahal pasokan gas baru saja masuk.
Berikut kronologi kejadian yang dialami warga secara langsung:
"Saya datang ke pangkalan itu karena mendengar kabar ada pasokan baru masuk. Saya bertanya langsung kepada pemilik, berapa harga satu tabung? Dengan santai dia menjawab Rp 20.000 per tabung. Padahal harga eceran tertinggi yang ditetapkan pemerintah hanya Rp 16.000 – Rp 17.000 saja. Saya tidak banyak bicara, setuju dan bersiap membayar.
Anak pemilik langsung mengambilkan tabung yang sudah terisi penuh dan meletakkannya tepat di depan saya. Saat saya sedang memegang HP dan menyodorkan uang lembar Rp 20.000 kepada pemiliknya, tiba‑tiba dia berubah sikap. Dia langsung berkata dengan nada keras: 'Gasnya sudah habis, tidak ada lagi'. Padahal barang yang berisi sudah ada di depan mata saya, sudah dipegang anaknya dan ditaruh di meja! Sungguh keterlaluan, dia berniat menipu saya dan seolah‑olah stok kosong padahal ada," ungkap saksi mata dengan nada kecewa.
Kejadian ini membuktikan betapa buruknya pelayanan dan perilaku nakal oknum pengelola pangkalan. Masalah ini ternyata bukan hanya soal harga yang dimahalkan, tapi ada permainan besar di baliknya.
PANGKALAN NAKAL BORONG KE WARUNG, MASYARAKAT SUSAH DAPAT
Warga mengaku sangat kesulitan mendapatkan LPG 3 KG yang seharusnya bersubsidi dan diperuntukkan bagi rakyat kecil. Kenapa susah? Karena menurut pengakuan warga, pangkalan‑pangkalan nakal seperti UD NIFO ini tidak menjual langsung ke konsumen, melainkan memborongkan seluruh stok yang masuk ke warung‑warung kecil atau pengecer lain. Akibatnya, warga biasa yang datang ke pangkalan pulang tangan kosong, sementara gas menumpuk di tempat lain dengan harga yang jauh lebih mahal.
DIMANA PERAN PEMERINTAH DAN DINAS TERKAIT?
Situasi ini mempertanyakan keberadaan dan kinerja Dinas Perdagangan, Perindustrian, dan instansi terkait di lingkungan Pemerintah Kota Gunungsitoli. Di mana mereka? Kenapa tidak ada pengawasan rutin? Kenapa aturan pendistribusian tidak ditegakkan?
LPG 3 KG adalah barang bersubsidi, hak rakyat. Tapi di Gunungsitoli, justru dikuasai oknum nakal, dimainkan, dan dijual seenaknya tanpa ada rasa takut akan sanksi hukum.
"Di mana pengawasan? Di mana penindakan? Apakah biarkan saja rakyat kecil terus ditindas? Lihatlah kondisi ini, Gunungsitoli Hebat, kata‑kata itu seolah jadi bahan tertawaan saja melihat kenyataan di lapangan," tulis warga dalam unggahannya yang kini menjadi sorotan dan dibahas banyak orang.
Warga berharap berita ini didengar pihak berwenang. Segera turun tangan, sidak pangkalan‑pangkalan nakal, cabut izin mereka jika melanggar, dan pastikan gas subsidi sampai langsung ke tangan warga dengan harga dan aturan yang benar. Jangan biarkan rakyat menderita karena ulah oknum yang serakah.


Social Header